Kota ideal saya

“Kota ideal saya”
You are having a conversation with a friend talking about the most ideal place you would like to live comparing it with where you live/are now. The place may be real or imagined.

Include in your conversation:
–    where you would live (city/town, state, location [N,S,E,W] of country)
–    type of weather
–    population
–    types of streets and buildings
–    character of the place

Include the following words and phrases :
(underline them once each in your text)
–    
terletak, letaknya
–    lebih ___ daripada, paling ___, ter____, dibandingkan,
    sama ___nya dengan, se___
–    apakah, di mana, berapa, bagaimana, yang mana, ___ apa yang     ___, mengapa
–    lebih suka, tidak senang, silakan, coba/tolong, karena, bukan
–    2 different adverbs of time
–    2 different positive and 2 different negative aspect markers
–    an apology, a regret and a thanks

(Word length: 250–300 words)

Note: English text isn’t translated directly – and it was never intended to be – it is just a very loose guide to the point I was trying to get across, so if I wasn’t clear, you would know the general aim of the text.

Iva:    Rebecca!

Rebecca:    O, Maafkan saya, Iva. Saya sedang melamunkan. Tadi, kamu berkata apa?

    Oh, my apologies, Iva. I was daydreaming. What was it you said?

Iva:    Jangan menyesal. Tidak ada penting. Kamu melamunkan apa?

    Don’t worry. It wasn’t important. What were you daydreaming about?

Rebecca:    O, hanya kota ideal saya…

    Oh, just my ideal city…

Iva:    Sungguh? Di mana
letaknya kota ideal kamu?

    Really? Where is your ideal city located?

Rebecca:    Saya menyesal, kota itu hanya khayali saja.

    Regretfully, the city is just in my imagination (just a fantasy)

Iva:    O, sayang. Kamu bercerita tentang kota itu, ‘kan?

    Oh, that’s a pity. You tell me about it, ok? (won’t you?)

Rebecca:    Saya kira bisa jadi… Hanya kalau sebenarnya sesuka-hati itu.

    I suppose I could… Only if you really want me to.

Iva:    Silakan! Bercerita saya tentang kota itu!

    Please do! Tell me about that city!

Rebecca:    Nah, cobalah membayang-bayangkan… Dunia yang lain, dengan beberapa kesamaan ke dunia ini, tetapi ubahan yang penting…

    Well… Try to imagine… Another world, with some similarities to this world, but some important differences.

Iva:    Aduh! Di mana terletak dunia itu?

    Where is that world located?

Rebecca:    O, kedalam angkasa pada suatu tempat, jauh dari sini.

    Oh, off into space somewhere, far from here.

Iva:    Apakah ada orang-orang yang lain di sana?

    Are there other people there?

Rebecca:    Ya, banyak orang. Dibandingkan dengan dunia ini, ada berapa banyak.

    Yes, many people. Compared to this world, there are many more.

Iva:    Jadi, penduduk di kota itu padat? Mereka mungkin-mungkin sama marahnyna dengan orang-orang di dunia ini.

    So, the population there is crowded? They’re probably as angry as people in this world…

Rebecca:    Tidak. Penduduk di kota ideal saya jarang – mereka terbentang. Dan juga tidak – penduduk di kota ideal saya jadi suka menolong, ramah-tamah.

    No. The population is sparse – they’re spread out. And also, no – the population of my ideal city are helpful, hospitable and friendly.

Iva:    Wah! Berapa luas kota itu?

    Wow. How big (area) is that city?

Rebecca:    Nah, tidak tentu tepatnya, karena berubah, tetapi sekurang-kurangnya sebesar negeri Australia.

    Well, I’m not sure exactly, because it changes, but at least as big as Australia.

Iva:    Wah, itu besar! Kamu tinggal di mana, di kota itu?

    Wow, that’s big. Where do you live, in this city?

Rebecca:    Saya tinggal di tengah-tengah kota itu, di rumah kelihatannya kecil dari luar, tetapi lebih besar pada dalam rumahnya.

    I live in the centre of the city, in a house which looks small from the outside, but is bigger on the inside.

Iva:    Bagaimana jadi mungkin?

    How is that possible?

Rebecca:    Tidak mungkin di dunia ini – seandainya tidak ‘Dokter’

    Its not possible in this world – unless you’re the (supposing you’re not the) ‘Doctor’.

Iva:    Dokter Siapa?

    Doctor Who?

Rebecca:    Sebenarnya! Kamu tidak tahu tentang ‘Dokter Siapa’? Kamu mesti bertamu, kita menonton televisi tontonan bersambung!

    Exactly! You don’t know about ‘Doctor Who’? You must come over, we’ll watch a show on TV!

Iva:    Oke. Nah, Apa hubungan diantara kota itu dan tontonan televisi?

    Ok. Well, whats the connection (relationship) between that city and the television show?

Rebecca:    Banyak ide untuk kota ideal saya ialah dari tontonan itu, nah.. teristimewa satu kisah dari tontonan itu.

    Many ideas for my ideal city are from that show. Well, especially(particularly)one episode from that show.

Iva:    Yang mana?

    Which one?

Rebecca:    Kisah itu bernama ‘Perpustakaan’, tetapi teristimewa itu ialah bukan namanya – karena itu saya lebih suka cara pengangkutan.

    The episode is named ‘The Library’, but its significance isn’t in the name. I prefer their method of transport

Iva:    Bagaimana orang bepergian? Ada apa macam pengangkutan di kota ideal kamu?

    How do people travel? What kind of transportation is there in your ideal city?

Rebecca:    Nah, beberapa orang naik berjalan kaki pada dalam jalan kecil tertutup yang tinggi diatas tanah, atau orang yang lain naik ‘teleportation’.

    Well, some people go walking inside enclosed walkways high above ground; or others go by ‘teleporting’.

Iva:    Teleportation apa?

    What is teleportation?

Rebecca:    Untuk perjalanan yang lebih panjang, orang di ‘Perpustakaan’, dan juga kota saya, naik teleportation. Itu cara pengangkutan yang menempuh jarak yang jauh dengan kecepatan yang dekat seketika.

    For longer travels, people in ‘The Library, and likewise, my city go by teleportation. It’s a way of travelling long distances with near instant speeds.

Iva:    Wah! Itu mengagumkan! Ada yang keperluan di dunia ini!

    Wow, that’s cool (amazing). That is needed in this world!

Rebecca:    Ya. Itu cara pengangkutan apa yang tercepat kemanapun di dunia apa saja.

    Yes, it’s the fastest method of travel anywhere, in any world.

Iva:    Jadi, mengapa ada jalan kecil? Yang mana mau pergi, kamu bisa teleport! Saya tidak mau berjalan pada jalan kecil itu… Saya tidak senang tempat yang tinggi!

    So, why are there pathways? Wherever you want to go, you can teleport! I don’t want to walk on those paths… I don’t like high places…

Rebecca:    Nah, kadang-kadang saya lebih suka berjalan; tetapi juga karena tiap-tiap tempat tidak dapat punya teleportation. Jangan menyesal, ada jalan kecil di tanah juga.

    Well, sometimes I prefer walking; but also because every place cannot have teleportation. Don’t worry, there are pathways on the ground also.

Iva:    O, sayang tentang teleportation. Bagaimana gedung-gedung di kota ideal kamu?

    Oh, what a pity about teleportation. How are the buildings in your ideal city?

Rebecca:    Wah! Saya keinginan kamu bisa kelihat! Ada gedung-gedung yang berbagai, tetapi semua lebih indah daripada ‘Taj Mahal’ di negeri Hindia. Ada gedung-gedung yang lebih tinggi daripada pencakar langit yang tertinggi.

    Wow, I wish you could see them. There are various kinds of buildings, but all are more beautiful than the ‘Taj Mahal’ in India. There are buildings which are taller than the tallest skyscrapers.

Iva:    Wah! Jadi, apakah ada hal-hal yang lain di kota itu? Ada taman, atau hanya gedung-gendung saja?

    Wow. So, are there any other things in your city? Is there a park, or just buildings only?

Rebecca:    O, ada taman yang banyak, dan besar. Indah sekali!

    Oh, there are parks – many, and large. Very beautiful!

Iva:    O, Tolong, saya mau tinggal di rumah pohon! Boleh saya?

    Oh, please, I want to live in a tree-house! May I?

Rebecca:    Tentu saja! Ide itu bagus! Kamu akan tinggal di rumah pohon, di taman dekat rumah saya; itu akan terbagus!

    Of course! That’s a great idea! You will live in a tree-house in the park near my house; it will be the best!

Iva:    Saya hanya memikiran… Kota itu ditenagai apa?

    I just thought… How is your city powered?

Rebecca:    Bersumber yang banyak. Ada tenaga dari atom, listrik, panas bumi… semua ialah mengunakan.

    Many sources. There is atomic power, electricity, geothermal energy… all are used.

Iva:    Itu membuat kota itu kotor, ya?

    That makes the city dirty, yes?

Rebecca:    Tidak. Kota saya paling bersih dibandingkan dengan kemanapun yang dapat dipikiran di dunia ini.

    No. My city is the cleanest in comparison to anywhere that can be thought of in this world.

Iva:    Bagaimana udaranya di kota itu?

    How is the weather there?

Rebecca:    O, kamu akan kecintaan bagian itu. Udara di kota ideal saya berubah-ubahan; tetapi itu karena udara dapat mengatur sendiri ke keinginan saya; sebagai daya gaib.

    Oh, you will love that part. Weather in my ideal city is changeable, but that’s because the weather can adjust itself to my wishes; as if like magic.

Iva:    Wah! Kamu jadi menakutkan!

    Wow, you are scary!

Rebecca:    Sama sekali tidak. Semua orang bisa – bukan saya saja.

    Not really. All people can – not just me.

Iva:    O, oke. Kalau, tidak terlalu menakutkan.

    Oh, ok. Not too scary then.

Rebecca:    Kalau ada satu soal…sampai sekarang, kota itu semungkin berhenti cahaya matahari.

    If there is one problem… As yet, that city is as possible as stopping the sun (stopping the sun from shining)

Iva:    Ya, saya mengerti. Soal yang lain – kita masih ke sini – karena bagaimana akan kita pergi ke sana?

    Yes, I understand. Another problem is, we would still be here, because how would we go there?

Rebecca:    Aduh! Kita tidak lagi ke sini. Kita akan menemukan cara yang perlu.

    We would no longer be stuck here. We would find the needed way.

Iva:    Apakah kamu sudah bernama kota itu?

    Does the city have a name?

Rebecca:    Belum. Kota itu mimpian saja. Mungkin bersama-sama kami menamakan kota itu.

    Not yet. Its just a dream. Perhaps together we can give it a name.

Iva:    Bagaimana… Hanja ‘Utopia’ saja?

    How about… Just simply, ‘Utopia’?

Rebecca:    Sempurna! Sesempurna bisa jadi.

    Perfect. As perfect as can be.

Iva:    Terima kasih! Saya suka cerita kamu.

    Thanks! I liked your story.

Rebecca:    Tidak apa-apa, terima kasih untuk mendengarkan!

    It was nothing. Thanks for listening!


 

Advertisements

All constructive criticism is welcome! What do you think? What could I do better? Reading suggestions are welcome too!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: